asatoe.co, Sumenep – Kehadiran Pemimpin Cabang BNI Pamekasan, Wahyudi Pangkat S., di kantor Perumahan Bukit Damai pada Selasa, 14 Januari 2025, sekitar pukul 17.00 WIB, meninggalkan kesan mendalam bagi pengembang. Kunjungan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen nyata, mengingat sebelumnya Wahyudi menyampaikan kepada wartawan bahwa dirinya akan segera menemui pihak pengembang. Komitmen itu dibuktikan dengan kehadiran langsung yang bahkan tidak sampai 1×24 jam sejak pernyataan disampaikan.
Kedatangan Wahyudi disambut hangat oleh pengelola Bukit Damai. Dalam pertemuan tersebut, Wirya membuka pembicaraan dengan sebuah pengantar reflektif tentang sejarah Islam. Ia mengangkat kisah Ibnu bin Muljam, sosok yang dikenal sebagai pengkhianat besar dalam sejarah Islam.
Menurut Wirya, Ibnu bin Muljam merupakan figur yang piawai bersandiwara hingga mampu menipu banyak pihak, termasuk para sahabat Nabi, bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Kepiawaiannya dalam berpura-pura membuatnya dijuluki Al-Mukri. Namun pada akhirnya, Allah membuka kedok Ibnu bin Muljam sebagai sosok munafik dan pengkhianat di hadapan umat manusia.
Dari kisah tersebut, Wirya menarik benang merah dengan realitas kehidupan saat ini. Ia menilai bahwa karakter serupa Ibnu bin Muljam bisa saja hadir di sekitar kita, termasuk dalam kehidupan organisasi dan birokrasi, tanpa terkecuali di lingkungan kerja mana pun.
Wirya menekankan bahwa pengkhianatan sering kali datang dari orang-orang terdekat, bukan dari pihak luar. Bahkan, dalam konteks kehidupan pribadi, ia menyebut bahwa pasangan hidup pun secara teori memiliki potensi untuk berkhianat, meski telah hidup bersama, berbagi suka dan duka, serta membesarkan anak selama bertahun-tahun. Apalagi, kata Wirya, orang-orang yang baru dikenal dalam hitungan bulan atau tahun.
Pesan tersebut disampaikan Wirya kepada Wahyudi Pangkat S. sebagai pengingat agar senantiasa waspada dan siaga setiap saat. Ia menyinggung adanya dugaan upaya memutarbalikkan fakta dalam sebuah persoalan, yang menurutnya bisa menjadi contoh nyata bagaimana pengkhianatan kecil dapat berdampak besar jika dipercaya sepenuhnya tanpa verifikasi.
Wirya juga menutup pesannya dengan refleksi sejarah, bahwa runtuhnya sebuah negara, pecahnya umat beragama, hingga terjadinya perang saudara, kerap bukan disebabkan oleh musuh dari luar, melainkan oleh pengkhianatan yang tumbuh dari dalam tubuh itu sendiri.