asatoe.co, Jakarta – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, meminta rencana PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 mobil niaga dari India dikaji ulang.
Ia menilai langkah itu berisiko melemahkan industri manufaktur dalam negeri.
Dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026), Said menegaskan penggunaan APBN harus berdampak langsung pada ekonomi nasional.
“Setiap belanja yang menggunakan APBN harus diperhitungkan manfaatnya bagi dalam negeri,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan pemerintah saat ini sedang mendorong penguatan ekonomi desa. Program Presiden Prabowo Subianto, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, dirancang untuk menggerakkan rantai pasok nasional.
Ia mengatakan, peningkatan permintaan pangan harus diimbangi produksi dalam negeri. Dengan begitu, perputaran ekonomi tumbuh dan impor bisa ditekan.
“Arsitektur ekonomi ini harus dipahami seluruh jajaran, termasuk BUMN,” katanya.
Said juga menyinggung kondisi manufaktur nasional yang belum pulih. Sejak 2011, pertumbuhannya disebut berada di bawah laju PDB.
Padahal, sektor ini menjadi tumpuan hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja.
Ia mengutip kajian Celios yang menyebut impor besar-besaran mobil niaga bisa menekan PDB dan pendapatan pekerja otomotif.
Jumlah 105.000 unit, lanjutnya, hampir setara produksi nasional dalam setahun.
“Kalau bisa diproduksi di dalam negeri, dampaknya jauh lebih besar bagi ekonomi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar efisiensi tidak hanya dilihat dari harga awal. Layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang harus diperhitungkan.
Said pun meminta rencana impor tersebut tidak dilanjutkan.
“Lebih baik dibatalkan agar anggaran negara benar-benar memberi manfaat bagi rakyat,” pungkasnya. (*)

