Bawa Kabur Uang Ratusan Juta, Oknum Anggota Arisan Online di Sumenep Dipolisikan

Istimewa

asatoe.co, Sumenep – Arisan merupakan kegiatan sekelompok masyarakat yang salahsatu kegiatannya berupa pengumpulan dana pada periode tertentu untuk kemudian dilakukan pengundian sebagai penentu penerima dana yang sudah terkumpul tersebut.

Arisan sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat dengan sistem yang berbeda-beda di tiap kelompok. Dalam perkembangannya, arisan mulai dilakukan dengan sistem online untuk efisiensi waktu serta jangkauan peserta meskipun memiliki resiko yang lebih besar.

Tak sedikit admin dan peserta arisan pada sebuah kelompok tertentu yang dirugikan akibat kelalaian oknum anggota yang tidak bertanggungjawab seperti yang dialami salah satu admin arisan online, Latifa Solehatul Ardi (22).

Perempuan kelahiran Desa Talang, Kecamatan Saronggi ini mengaku kesal dengan anggotanya yang menghilang dan membawa kabur uang ratusan juta rupiah. Latifa sudah bertahun-tahun melakoni profesinya sebagai admin arisan online.

Dia menceritakan tentang salah satu anggota arisan bernama Surya Tri Nuryani, warga Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget, yang membawa kabur uang usai menang arisan ratusan juta rupiah.

“Disini saya kan admin arisan, jadi ada anggota saya yang satu ini sering ikut arisan online level atas. Pelaku ini sudah ngena arisan itu di semua grup karena daftar awal, tapi sekarang malah kabur,” Jelasnya saat dikonfirmasi lewat jaringan selular.

Awalnya, kata dia, Surya Tri Nuryani, yang kerap dipanggil dengan nama Ulfa itu ikut arisan online sama seperti anggota lainnya. Hanya saja limit arisan online yang diikuti Ulfa dengan limit harga tertinggi. Sebagai admin arisan, Latifa, sering kecolongan anggotanya yang tiba-tiba kabur dipertengahan jalan ikut arisan online tersebut.

Hanya saja, Surya Tri Nuryani, diyakini olehnya adalah anggota arisan yang mendapatkan keuntungan paling banyak. Sehingga, keberadaan dirinya saat ini terus dicari untuk diminta pertanggungjawaban. Sebab, Ulfa, hingga saat ini belum diketahui keberadaannya alias kabur.

“Jadi di pertengahan bulan Juli 2021 kemarin Ulfa ini sudah kabur. Ke saya saja Ulfa ini bawa Kabur uang sekitar Rp 57 juta, tapi kalau di teman-teman yang lain ada yang sampai Rp 500 juta-an,” paparnya.

Selaku admin arisan, Latifa tentu tahu bahwa Ulfa mengikuti arisan lebih dari satu nama saja. Hanya saja, untuk mengelabuhi admin arisan, Ulfa terkadang mengganti namanya dengan orang lain.

“Pelaku ini ikut lebih dari 20 grup dengan nama yang berbeda. Cuma di nama itu belakangnya dikasih tanda huruf (U). Nah, huruf U itu adalah Ulfa,” jelasnya.

Sebab tak terima dikecewakan berulang kali, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan laporan pengaduan ke Polres Sumenep, Madura, Jawa Timur.

“Saya mau laporkan kasus ini ke polisi,” timpalnya.

Diketahui, dari sistem arisan online itu, menurutnya memang sering banyak anggota yang kabur ketika telah menang arisan. Hanya saja, kata dia, agar arisan terus berlanjut maka admin-lah yang akan menalangi kekosongan anggota yang tak bayar uang arisan untuk sementara waktu saja.

“Ini sudah aturan, kalau admin wajib menalangi anggota yang tidak bayar atau kabur,” paparnya.

Dirinya mengungkapkan, saat ini arisan online di Sumenep telah banyak diikuti kalangan masyarakat. Anggota arisan pun yang ikut bervariatif. Dari mulai ikut di limit Rp 2 juta hingga Rp 20 juta, yakni paling tinggi bet arisan.

“Cuma pelaku ini merasa aman karena sudah ngena arisan yang besar, tapi yang dirugikan adalah saya sebagai admin,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, paling lama arisan online tersebut biasanya selesai satu tahun, tergantung limit arisan yang diikuti. Pihaknya berharap, adanya pelaporan itu bisa membuat efek jera kepada anggota yang tidak mau bertanggungjawab alias membawa kabur dengan membawa uang arisan.

“Saya maunya ada efek jera, makanya mau saya seret ke ranah hukum. Secepatnya akan saya proses, dan akan mengundang pengacara,” tegasnya.

Pada pewarta, Latifa mengaku sistem arisan online tersebut yakni bermodal kepercayaan dan komitmen antara admin dan anggota.

“Sebenarnya saya sudah mencoba menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Tapi pihak keluarganya sudah angkat tangan, dengan alasan tidak tahu ke arisannya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, hingga berita ini diterbitkan, satupun nomor kontak pelaku belum bisa dikonfirmasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *