asatoe.co, Sumenep – Arsip foto menjadi cara dua mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengenalkan sejarah Sumenep kepada generasi muda. Melalui pameran Hari Museum Nasional, mereka mengajak pengunjung melihat identitas daerah lebih luas, tidak hanya dikenal sebagai penghasil garam.
Dua mahasiswa Ilmu Sejarah UNY, Naufal Al Fadhil dan Aros Selat Gumara, menghadirkan foto-foto lama beserta narasi sejarah di depan Museum Keraton Sumenep, Jalan Dr. Soetomo, Kelurahan Pajagalan. Pameran berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 untuk menyambut Hari Museum Nasional yang diperingati setiap 12 Oktober.
Aros mengatakan, pengenalan sejarah lokal penting agar generasi muda memahami kekayaan identitas dan perjalanan daerahnya. Menurutnya, Sumenep memiliki banyak cerita masa lalu yang menarik untuk ditelusuri.
“Jadi, saya sebagai peserta pameran ingin menarik Gen Z lebih mengenal Sumenep secara lebih kompleks lagi. Tidak hanya persoalan garam semata,” kata Aros, Sabtu (11/10/2026) kemarin.
Ketertarikan pengunjung terlihat dari percakapan yang muncul di stan mereka. Sejumlah pengunjung berusia 40 tahun ke atas mengaitkan foto-foto lama dengan pengalaman pribadi maupun cerita yang diwariskan keluarga.
Sementara itu, pengunjung muda mempertanyakan mengapa materi sejarah lokal belum banyak diperkenalkan dalam kegiatan pengenalan Kacong Cebbing Sumenep. Mereka juga menyoroti pentingnya ketersediaan arsip foto dan dokumentasi sejarah di museum.
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari diskusi tentang bagaimana sejarah daerah dikumpulkan, dirawat, dan dikenalkan kepada masyarakat. Arsip tidak hanya menjadi bukti masa lalu, tetapi juga sarana mempertemukan pengetahuan sejarah dengan ingatan warga.
Bersama pegiat sejarah Sumenep, Muhamad Khairil Anwar, Aros dan Naufal menggelar diskusi bertema Menolak Lupa, Menolak Kuno. Mereka mengajak pengunjung menelusuri perubahan bangunan peninggalan Belanda melalui foto dan narasi sejarah.
Pembahasan juga meluas hingga sejarah transportasi di Sumenep. Saat mengunjungi pameran, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersama Wakil Bupati KH Imam Hasyim turut berdiskusi mengenai keberadaan kereta api atau trem yang pernah ada di daerah tersebut.
Naufal menilai, penyajian sejarah melalui materi visual dapat membantu masyarakat memahami masa lalu dengan cara yang lebih komunikatif. Foto-foto lama juga membuka ruang dialog antara pengunjung, pegiat sejarah, dan kalangan akademisi.
Di tengah beragam stan yang menampilkan keris, batu akik, seni ukir, dan bonsai, pameran arsip sejarah menghadirkan ruang untuk menelusuri perjalanan Sumenep melalui dokumentasi masa lalu. Antusiasme pengunjung pada malam hari turut menunjukkan bahwa sejarah dapat menjadi bahan percakapan yang menarik ketika disajikan secara terbuka.
Pameran yang digelar Pemerintah Kabupaten Sumenep itu juga diramaikan festival kuliner Nusantara dan berbagai kegiatan lainnya. Selain menjadi sarana rekreasi, kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan budaya dan sejarah daerah.
Pengalaman selama pameran sekaligus memperlihatkan pentingnya akses terhadap arsip sejarah lokal. Museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang edukasi yang mampu mendekatkan masa lalu dengan kehidupan generasi sekarang. (*)





